BERANI LANCAR: KETIKA JALAN DAN JEMBATAN MENJADI PENGGERAK EKONOMI SULAWESI TENGAH

IMG-20260924-WA0001

Oleh: Ir. Syaiful Anwar, ST., M.Si.

Kepala Seksi Jembatan

Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Sulawesi Tengah

 

Pembangunan jalan dan jembatan sering kali dipahami sebatas pembangunan fisik. Padahal, bagi masyarakat Sulawesi Tengah, jalan dan jembatan adalah urat nadi kehidupan. Di atas jalan itulah hasil pertanian dibawa ke pasar, anak-anak menuju sekolah, masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan, dan aktivitas ekonomi bergerak dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

Dalam konteks tersebut, Program BERANI Lancar yang menjadi salah satu program prioritas Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Anwar Hafid memiliki posisi strategis.

Capaian yang telah berjalan menunjukkan bahwa program ini tidak berhenti pada gagasan, tetapi telah diterjemahkan ke dalam pekerjaan pembangunan dan penanganan infrastruktur di lapangan.

212,56 Kilometer Jalan Ditangani pada 2025

Salah satu capaian yang dapat menjadi ukuran awal adalah penanganan 212,56 kilometer jalan sepanjang 2025.

Data tersebut disampaikan Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid dalam evaluasi akhir tahun pemerintahan BERANI. Penanganan tersebut mencakup berbagai wilayah dan jenis pekerjaan, mulai dari rekonstruksi, rehabilitasi, pemeliharaan hingga penanganan kondisi darurat.

Angka 212,56 kilometer tentu bukan sekadar angka statistik.

Di balik angka tersebut terdapat ruas jalan yang kembali berfungsi, akses masyarakat yang semakin terbuka dan konektivitas antarkawasan yang diperbaiki.

Sulawesi Tengah memiliki wilayah geografis yang luas dengan karakteristik medan yang berbeda-beda. Karena itu, pekerjaan jalan membutuhkan pendekatan teknis yang tidak sama antara satu lokasi dengan lokasi lainnya.

Memasuki 2026, Penanganan Terus Diperluas

Komitmen pembangunan tersebut dilanjutkan pada 2026.

Berdasarkan data yang disampaikan Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Sulawesi Tengah, pada 2026 pemerintah menangani 57 ruas jalan dan 10 jembatan dengan anggaran sekitar Rp208,98 miliar.

Dari jumlah tersebut, terdapat 46 ruas jalan non-multiyears dengan total panjang pekerjaan sekitar 43,73 kilometer.

Selain itu, pemerintah juga menjalankan 12 paket kontrak tahun jamak (multiyears) dengan nilai total sekitar Rp604,82 miliar untuk mendukung kesinambungan pembangunan jalan provinsi.

Skema multiyears memiliki arti penting dalam pembangunan infrastruktur. Pekerjaan jalan dan jembatan tertentu membutuhkan waktu, pembiayaan serta tahapan konstruksi yang tidak selalu dapat diselesaikan secara efektif dalam satu tahun anggaran.

Dengan perencanaan tahun jamak, pekerjaan strategis dapat dilaksanakan secara lebih berkelanjutan sesuai tahapan teknis dan kemampuan pembiayaan daerah.

1.000 Kilometer Jalan Desa: Target Besar yang Harus Dikawal

Salah satu bagian penting dari Program BERANI Lancar adalah perhatian terhadap konektivitas di tingkat desa.

Pada 2026, tercatat dukungan pembangunan 26 ruas jalan desa dengan total panjang sekitar 19,76 kilometer. Pekerjaan tersebut ditempatkan sebagai bagian dari target besar Program BERANI Lancar untuk pembangunan/peningkatan 1.000 kilometer jalan desa.

Target 1.000 kilometer merupakan pekerjaan besar.

Karena itu, keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kualitas perencanaan, ketepatan prioritas, kualitas konstruksi, pengawasan dan pemeliharaan setelah pekerjaan selesai.

Jalan desa memiliki arti yang sangat strategis karena bersentuhan langsung dengan aktivitas ekonomi masyarakat.

Bagi petani, jalan desa berarti akses menuju kebun dan pasar. Bagi nelayan, berarti akses menuju pusat distribusi. Bagi masyarakat pedesaan, berarti akses yang lebih mudah menuju sekolah, puskesmas, kantor pemerintahan dan pusat perdagangan.

Jembatan: Infrastruktur Kecil, Dampaknya Besar

Sebagai seorang yang berkecimpung dalam bidang jembatan, saya melihat bahwa pembangunan jembatan memiliki karakter yang berbeda dengan pekerjaan jalan biasa.

Satu jembatan yang mengalami kerusakan dapat memutus konektivitas sebuah kawasan.

Karena itu, penanganan 10 unit jembatan pada 2026, dengan total panjang sekitar 52 meter dan dukungan anggaran sekitar Rp24 miliar, merupakan bagian penting dalam menjaga kesinambungan jaringan jalan.

Jembatan harus dibangun dengan memperhatikan aspek keselamatan, struktur, hidrologi, geoteknik, kondisi sungai, lalu lintas serta umur layanan.

Tidak cukup sebuah jembatan terlihat kokoh ketika selesai dibangun. Infrastruktur tersebut harus memenuhi persyaratan teknis dan mampu memberikan pelayanan sesuai umur rencana.

Di sinilah kualitas perencanaan dan pengawasan menjadi sangat menentukan.

Jalan Lancar, Ekonomi Bergerak

Keberhasilan pembangunan infrastruktur pada akhirnya harus dilihat dari manfaatnya.

Jalan yang baik dapat membantu menurunkan hambatan transportasi. Jembatan yang aman dapat membuka kembali akses masyarakat. Konektivitas yang semakin baik dapat memperlancar distribusi hasil pertanian, perkebunan dan perikanan.

Sulawesi Tengah memiliki potensi ekonomi yang besar. Namun potensi tersebut tidak akan optimal apabila konektivitas antarwilayah masih menghadapi banyak hambatan.

Karena itu, pembangunan jalan dan jembatan memiliki hubungan langsung dengan agenda pembangunan ekonomi daerah.

Infrastruktur bukan tujuan akhir. Infrastruktur adalah sarana untuk membuat aktivitas masyarakat menjadi lebih mudah dan produktif.

BERANI Lancar Harus Berlanjut dengan Tata Kelola yang Kuat

Sebagai insan teknis, kita tentu menyadari bahwa pembangunan infrastruktur tidak cukup hanya mengejar kuantitas.

Ada empat hal yang harus berjalan bersamaan:

Pertama, kualitas.

Setiap pekerjaan harus memenuhi spesifikasi teknis dan standar konstruksi.

Kedua, ketepatan sasaran.

Ruas yang ditangani harus benar-benar menjawab kebutuhan konektivitas masyarakat.

Ketiga, pengawasan.

Setiap tahapan pekerjaan harus dikawal agar pelaksanaan sesuai dengan perencanaan dan ketentuan kontrak.

Keempat, pemeliharaan.

Infrastruktur yang telah dibangun harus dirawat agar manfaatnya dapat berlangsung dalam jangka panjang.

Dengan demikian, keberhasilan BERANI Lancar tidak hanya diukur dari berapa kilometer jalan yang dibangun atau berapa unit jembatan yang dikerjakan, tetapi juga dari seberapa lama dan seberapa besar manfaat infrastruktur tersebut dirasakan masyarakat.

Dari Angka Menjadi Manfaat

Data menunjukkan bahwa sepanjang 2025 telah ditangani 212,56 kilometer jalan. Pada 2026, penanganan berlanjut melalui 57 ruas jalan dan 10 jembatan, disertai 12 paket multiyears serta dukungan pembangunan jalan desa sebagai bagian dari target 1.000 kilometer.

Angka-angka tersebut memberikan gambaran mengenai skala pekerjaan yang sedang dilakukan.

Namun pekerjaan terbesar sesungguhnya adalah memastikan bahwa setiap kilometer jalan dan setiap jembatan yang dibangun benar-benar menghasilkan manfaat bagi masyarakat.

Di situlah ukuran keberhasilan sebuah program pembangunan.

Bagi kami yang bekerja di bidang teknis, pembangunan infrastruktur adalah pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, tanggung jawab dan konsistensi.

Setiap jalan yang dibangun harus dipertanggungjawabkan kualitasnya.

Setiap jembatan yang dibangun harus dipertanggungjawabkan keselamatannya.

Dan setiap rupiah anggaran yang digunakan harus menghasilkan manfaat publik yang sebesar-besarnya.

BERANI LANCAR dan Masa Depan Sulawesi Tengah

Program BERANI Lancar telah memasuki tahap penting dalam pembangunan konektivitas Sulawesi Tengah.

Tantangannya ke depan adalah memastikan capaian tersebut terus meningkat, kualitas pekerjaan tetap terjaga, pembangunan menjangkau wilayah yang membutuhkan dan target jangka panjang dapat diwujudkan secara bertahap.

Jika konektivitas semakin baik, maka pergerakan masyarakat semakin mudah.

Jika distribusi semakin lancar, maka biaya dan waktu transportasi dapat ditekan.

Jika akses semakin terbuka, maka pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru dapat berkembang.

Dan jika pembangunan jalan serta jembatan dilakukan dengan perencanaan dan tata kelola yang baik, maka manfaatnya dapat dirasakan jauh melampaui masa pembangunan fisiknya.

Pada akhirnya, BERANI Lancar bukan hanya tentang jalan yang menjadi lebih baik atau jembatan yang semakin kuat.

BERANI Lancar adalah tentang bagaimana konektivitas membuka kesempatan, menggerakkan ekonomi dan menghadirkan pelayanan publik yang semakin dekat dengan masyarakat Sulawesi Tengah.

 

Ir. Syaiful Anwar, ST., M.Si.

Kepala Seksi Jembatan

Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Sulawesi Tengah